09 September 2008

hidup berdampingan dengan ODHA, amankah?


Secara teori, semua sikap yang kontak dengan orang yang cairan-cairan tubuhnya mengandung virus HIV dapat menimbulkan terjadinya penularan.

Walaupun demikian, untuk benar-benar terjadinya penularan dibutuhkan jumlah virus yang cukup meskipun jumlah yang pasti tidak diketahui, hanya 3 cairan tubuh saja yang pa danya terdapat jumlah virus yang cukup untuk kemungkinan berisiko terjadinya penularan: darah, cairan sperma dan cairan vagina. Sebaliknya, air liur, air seni dan tinja tanpa darah tidak mengandung virus HIV yang cukup untuk menyebabkan kemungkinan terjadinya penularan HIV. (Lihat Seth C. Kalichman, Center for AIDS Intervention Research (CAIR) Medical College of Wisconsin and Georgia State University, Preventing AIDS, A Sourcebook for Behavioral Interventions, Lawrence Erlbaum Associates, Publishers, Mahwah, New Jersey, London, 1998, hal. 2)

Virus HIV bisa menular melalui transfusi darah yang mengandung virus HIV dan ibu penderita HIV positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan, atau melalui air susu ibu (ASI). Husein menjelaskan, penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah. Caranya, ibu HIV positif minum obat ARV profilaksis selama hamil, persalinan dengan operasi caesar, dan memberikan susu formula untuk bayinya.

Langkah ini bisa menekan penularan dari 25 persen hingga 45 persen menjadi kurang dari 2 persen. Intervensi tersebut dikenal dengan program Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT). Menurut estimasi Depkes, setiap tahun terdapat sembilan ribu ibu hamil HIV positif yang melahirkan di Indonesia. Berarti, jika tidak ada intervensi sekitar tiga ribu bayi dikhawatirkan lahir HIV positif setiap tahunnya.

Bagi ibu hamil yang hasil tes HIV-nya positif, efektivitas intervensi PMTCT tersebut seringkali terhambat oleh faktor biaya. Hampir semua dari 55 orang ibu hamil HIV positif yang berhubungan dengan YPI misalnya, berasal dari golongan ekonomi kurang mampu.

Mereka memang cukup beruntung karena obat-obat ARV profilaksis yang harus diminum selama hamil bisa didapatkan gratis di rumah sakit rujukan pemerintah. Namun, mereka tidak mampu menanggung biaya operasi caesar. Selain itu, ditambah dengan biaya susu formula untuk bayi sekitar 150 ribu rupiah per bulan.

Selain itu, layanan PMTCT memerlukan kesiapan tenaga kesehatan. Beberapa rumah sakit di Jakarta dan daerah lain telah memberikan layanan yang baik terhadap ODHA. Namun, masih sering terdengar adanya petugas kesehatan yang bersikap diskriminatif terhadap pasien HIV/AIDS.

Beberapa petugas kesehatan tidak bersedia memberikan layanan operasi caesar bagi ibu HIV positif dengan alasan belum siap, peralatan medis kurang memadai, ataupun karena belum ada izin dari pihak pimpinan rumah sakit untuk melakukannya. Padahal, perawatan medis untuk ODHA bisa dilakukan sama seperti terhadap pasien-pasien umum lainnya, jika diterapkan prinsip kewaspadaan universal.